Apa itu Metroseksual?

Hasil penelitian di USA dan Inggris terhadap seribu pria oleh The state of men membuktikan bahwa laki laki masa kini merasakan tekanan untuk makin mempercantik dirinya. Buktinya 54% laki laki secara teratur menggunakan produk perawatan kulit, terutama pelembab dan krim mata. Ada 33% menggunakan hairy muffle, 9% menggunakan Foundation untuk wajah, 11% menggunakan Bronzer untuk shading, 10% menggunakan Concealer untuk menutupi flek, 29% rajin manicure dan pedicure, 24% rajin facial, serta 13% laki laki cukur alis.

Jika warna merah muda atau pink diindentikkan dengan warnanya para wanita, maka biru adalah warna bagi para pria. Tapi tunggu dulu, agaknya klasifikasi tersebut perlu dikaji ulang melihat banyaknya para pria kini justru lebih percaya diri tampil dengan kemeja merah jambu mereka. Brooks Brothers pernah memperkenalkan polo merah muda dengan memakainya di sampul majalah Vogue di awal 1940-an. Sampul majalah tersebut menjadi pembicaraan hangat karena asosiasi warna yang dipakai pada cover majalah lekat dengan femininitas. Walau ternyata, asosiasi antara merah muda dan wanita bisa dibilang salah.

Metroseksual bukan masalah, asal tidak besar pasak daripada tiang

Hasilnya, dalam Analisis Tren Industri Kecantikan 2017 Franchise Help, diestimasikan 75 persen pria memang tak memakai perkakas perawatan wajah dan kulit. Namun di saat yang sama, angka pertumbuhan pasar di sektor ini terus meningkat. Fung Global Retail Tech memang mencatat Eropa Barat sebagai daerah paling besar pertumbuhan industri perawatan tubuh prianya. Angkanya mencapai $12,4 miliar pada 25 dan diprediksi akan jadi $14,4 miliar pada 2020. Namun, pertumbuhan pesat juga terjadi di Asia Pasifik, dan Indonesia masuk hitungan. Korea Selatan masih jadi negara pemimpin di kawasan tersebut. Ia bahkan masuk daftar 10 negara di dunia dengan pertumbuhan industri kecantikan pria tertinggi. Euromonitor mencatat, tiap pria Korea rata-rata menghabiskan 39 dolar AS per tahun untuk merawat kulitnya. Ini sejalan dengan budaya masyarakatnya yang tak terlalu ricuh perkara pria bersolek atau pria yang merawat diri.

Quote:
Metroseksual bisa jadi trademark seorang pria karena beberapa hal. Dia sudah sadar atas status sosialnya yang menuntut dia untuk sadar penampilan karena itu merupakan modal dia dalam menjalani aktivitasnya. Atau mereka menjadi metroseksual karena status ekonominya telah tercukupi bahkan sudah melebihi dari skala cukup. Sehingga ketika berpenampilan plus itu menjadi bonus untuk sekedar prestige buat dirinya sendiri serta kalangan sosialnya. Asalkan tidak berusaha berpenampilan lebay. Jangan sampai gaya metroseksualnya justru digunjingkan orang. Sadar dan tahu cara berpenampilan tepat menyesuaikan situasi dan kondisi, itu yang penting. Perlu diingat, rapi itu harus enak dilihat dan sesuai. Pasti dia bakal punya daya tarik terhadap lawan jenis bahkan bisa dicontoh oleh teman sekelilingnya. Gak mau kan, tampil necis setiap saat tetapi malah jadi bahan omongan buat yang lain?

Metroseksual bukan masalah, asal tidak besar pasak daripada tiang

Sosok metroseksual juga dikenal narsis. Narsis tidak masalah selama dia proporsional, cukup untuk membuat kepercayaan diri, dan tidak tergantung dari cermin yang dibikin orang lain. Tapi jika berlebihan, bisa menjadi patologis, merasa diri paling hebat, dan tidak lagi menghargai orang lain, seperti mitologi Yunani, tokoh Narcissus, yang saking cintanya pada dirinya, ketika dia melihat bayangannya di kolam, dia berusaha untuk menyentuh tangannya, dan akhirnya tenggelam sendiri di kolam tersebut. Narcissistic personality disorder dimiliki oleh 1% penduduk dunia.

Orang yang memiliki NPD biasanya menunjukkan perilaku memiliki rasa kepentingan diri sendiri yang berlebihan, arogan, minimnya empati terhadap orang lain, dan kebutuhan terhadap puja-puji, yang semuanya terlihat dengan konsisten di lingkungan kerja dan hubungan sosial. Orang-orang dengan kondisi ini sering dideskripsikan sebagai orang yang sombong, egois, manipulatif, dan doyan menuntut sesuatu. Narcissistic personality disorder memungkinkan pengidapnya untuk memfokuskan diri pada hasil yang di luar akal sehat, misalnya, ketenaran, dan merasa sangat yakin bahwa mereka berhak mendapatkan perlakuan khusus dari orang di sekitarnya. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa hobi selfie bukanlah salah satu karakteristik penting pembangun gangguan kepribadian, termasuk gangguan narsisistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *